Dolar AS Tembus Level Psikologis 100: Ekspektasi Suku Bunga Tetap dan Shutdown Pemerintah Jadi Sorotan.
Dolar AS menguat tajam hingga menembus indeks 100 karena ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di Desember.
Ketidakpastian politik akibat shutdown pemerintah AS mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset aman.
Dolar AS terus menguat pada Selasa, menembus level psikologis 100 pada Indeks Dolar (DXY) dan mencatat kenaikan lima hari berturut-turut, didorong oleh pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menahan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang. Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian politik di Washington akibat berlarutnya penutupan sebagian pemerintahan AS tanpa tanda-tanda kesepakatan baru. Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati namun tetap memilih dolar sebagai aset lindung nilai utama.
Kenaikan dolar menekan mayoritas mata uang utama. Euro melemah di bawah level 1.1500 untuk pertama kalinya sejak Agustus, sementara Poundsterling jatuh ke posisi terendah beberapa bulan di kisaran 1.3020–1.3010. Di Asia, Yen Jepang sempat menguat ke level 153.30 per dolar karena meningkatnya sentimen risk-off, namun masih menunjukkan tekanan jangka menengah. Dolar Australia juga tertekan setelah keputusan bank sentral Australia (RBA) mempertahankan suku bunga, memperkuat dominasi dolar AS di pasar global.
Para pelaku pasar kini menantikan data ekonomi penting seperti ADP Employment Change dan ISM Services PMI yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Selama ekspektasi “suku bunga tetap” terus menguat dan risiko politik AS berlanjut, daya tarik dolar kemungkinan tetap tinggi. Situasi ini menandakan investor lebih memilih stabilitas dolar dibanding risiko di aset lain, memperkuat posisi mata uang tersebut di level tertingginya dalam enam bulan.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish Dolar AS – Didukung ekspektasi suku bunga tetap tinggi, melemahnya mata uang pesaing, dan meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketidakpastian politik.
Emas Melemah di Bawah $4.000: Tekanan dari Dolar Kuat dan Kebijakan Pajak China Redam Sentimen Pasar.
China menurunkan pembebasan VAT emas, memicu penurunan permintaan ritel dan tekanan jangka pendek terhadap harga emas global.
Dolar AS menguat seiring sikap hati-hati The Fed, mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada Desember.
Harga emas turun mendekati level $3.970 per ons pada Selasa, setelah gagal bertahan di atas ambang psikologis $4.000. Penguatan dolar AS dan sikap hati-hati Federal Reserve menekan permintaan terhadap logam mulia ini. Secara teknikal, XAU/USD menunjukkan momentum netral dengan RSI 4 jam di sekitar level 47, menandakan fase konsolidasi. Meski begitu, emas masih mempertahankan tren naik jangka panjang setelah terkoreksi dari rekor tertinggi $4.381 pada 20 Oktober lalu, ditopang oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih tinggi.
Dari sisi fundamental, langkah China menurunkan pembebasan pajak pertambahan nilai (VAT) untuk transaksi emas dari 13% menjadi 6% menekan permintaan ritel domestik. Beberapa bank besar di China bahkan menghentikan penebusan fisik dan pembukaan akun baru emas guna menahan spekulasi berlebih di pasar lokal. Kebijakan ini menimbulkan tekanan jangka pendek pada permintaan emas global, mengingat China merupakan salah satu konsumen terbesar logam mulia di dunia.
Sementara itu, pejabat Federal Reserve memberikan sinyal beragam terkait arah kebijakan suku bunga. Sebagian masih menyoroti risiko inflasi yang tinggi, sementara lainnya menilai pasar tenaga kerja mulai melunak. Peluang pemangkasan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 70% dari sebelumnya 94%, menandakan pasar mulai meragukan potensi pelonggaran lebih lanjut. Meski UBS menilai penurunan harga emas bersifat sementara dengan proyeksi naik ke $4.200 per ons, tekanan dari kebijakan pajak China dan menguatnya dolar membuat sentimen jangka pendek tetap rapuh.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Dipicu oleh dolar yang menguat dan kebijakan pajak China yang menekan permintaan fisik, meskipun tren jangka panjang masih tetap positif.
Minyak Melemah: Dolar Kuat dan Kekhawatiran Surplus Pasokan Tekan Harga Minyak Global.
Penguatan dolar AS dan melemahnya data manufaktur global menekan permintaan minyak dan membuat harga turun.
OPEC+ menunda kenaikan produksi pada awal tahun depan sebagai sinyal kekhawatiran terhadap potensi surplus pasokan.
Harga minyak dunia ditutup melemah pada Selasa karena kombinasi dari melemahnya data manufaktur global dan penguatan dolar AS yang menekan permintaan. Minyak Brent turun 0,7% ke $64,44 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 0,8% ke $60,56. Tekanan terhadap harga juga meningkat akibat kekhawatiran bahwa penutupan sebagian pemerintahan AS yang berkepanjangan dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan menurunkan konsumsi bahan bakar domestik.
Penguatan dolar AS ke level tertinggi empat bulan terhadap euro turut memperburuk sentimen pasar. Nilai tukar yang lebih kuat membuat minyak—yang dihargakan dalam dolar—menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Sementara itu, pasar saham AS juga mengalami penurunan tajam setelah sejumlah bank besar memperingatkan potensi aksi jual yang lebih luas, di tengah meningkatnya dampak shutdown pemerintah dan lemahnya laporan manufaktur Jepang yang menyusut tercepat dalam 19 bulan terakhir.
Dari sisi fundamental, keputusan OPEC+ untuk menunda kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026 dipandang sebagai tanda kehati-hatian terhadap potensi kelebihan pasokan di pasar global. Namun, laporan Reuters menunjukkan produksi OPEC justru sedikit meningkat pada Oktober, meski dengan laju yang melambat. Sentimen bullish dari sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia juga mulai memudar, membuat pelaku pasar kini fokus pada data stok minyak mentah AS yang diperkirakan naik, menambah tekanan ke arah penurunan harga.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish: Karena faktor tekanan permintaan global, penguatan dolar, dan potensi kenaikan stok minyak AS menutupi potensi dukungan dari kebijakan hati-hati OPEC+.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
-
ADP Nonfarm Employment Change (Oct) (Pukul 20:15):
Forecast (31K) > Previous (-32K): Lonjakan signifikan dari kontraksi ke pertumbuhan lapangan kerja. Ini berpotensi sangat menguatkan USD, menunjukkan pemulihan pasar tenaga kerja yang kuat. -
ISM Non-Manufacturing PMI (Oct) (Pukul 21:00):
Forecast (51.0) > Previous (50.8): Indeks Manajer Pembelian Non-Manufaktur ISM yang diperkirakan meningkat. Ini berpotensi menguatkan USD, menunjukkan pertumbuhan di sektor jasa. -
S&P Global Services PMI (Oct) (Pukul 21:45):
Forecast (55.2) > Previous (54.2): Peningkatan aktivitas sektor jasa global. Ini berpotensi menguatkan USD, menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. -
ISM Non-Manufacturing PMI (Oct) (Pukul 22:00):
Forecast (50.7) > Previous (50.0): (Perhatikan ada dua entri untuk ISM Non-Manufacturing PMI, saya akan asumsikan ini adalah revisi atau data terpisah). Peningkatan ini juga berpotensi menguatkan USD, memperkuat sinyal pertumbuhan di sektor jasa.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
