Wall Street Menguat Setelah Trump–Xi Siap Bertemu, Ketegangan Perdagangan AS–China Mereda.
Konfirmasi pertemuan Trump–Xi menenangkan pasar dan mendorong penguatan indeks saham AS.
Sanksi baru AS terhadap perusahaan minyak Rusia meningkatkan harga minyak dan menguatkan saham sektor energi.
Pasar saham AS ditutup menguat pada Kamis (23/10) seiring meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Indeks S&P 500 naik 0,6%, Dow Jones menguat 0,3%, dan Nasdaq melonjak 0,9%, dipimpin oleh sektor teknologi setelah Gedung Putih mengonfirmasi pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping pada 30 Oktober. Sentimen pasar membaik karena kekhawatiran perang dagang berkurang, meski rencana pembatasan ekspor teknologi AS ke China masih menjadi risiko potensial.
Di sisi korporasi, kinerja emiten teknologi beragam. Tesla turun setelah laba bersih anjlok 37% akibat kenaikan biaya dan penurunan insentif kendaraan listrik. IBM juga melemah karena pertumbuhan pendapatan perangkat lunak yang mengecewakan, meski hasil keuangan keseluruhan melampaui ekspektasi. Sebaliknya, Honeywell naik setelah menaikkan proyeksi laba 2025, dan American Airlines menguat karena hasil kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan. Hingga kini, sekitar 86% perusahaan di S&P 500 telah melaporkan hasil di atas ekspektasi analis.
Dari sisi geopolitik, Trump juga mengumumkan sanksi terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, sebagai respons terhadap kurangnya komitmen Moskow dalam mengakhiri perang di Ukraina. Langkah ini menekan pasokan minyak global dan mendukung kenaikan tajam harga minyak, memperkuat optimisme di sektor energi. Namun, investor tetap waspada terhadap dampak jangka panjang sanksi dan kebijakan ekspor AS terhadap stabilitas perdagangan global.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish indeks saham AS – didukung oleh meredanya ketegangan perdagangan dan hasil kinerja emiten yang solid.
Emas Bangkit Setelah Terjun Tajam, Ketegangan AS–China dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Kembali Jadi Pendorong.
Ketegangan dagang AS–China dan sanksi baru terhadap Rusia kembali memicu permintaan aset safe haven seperti emas.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan pandangan bullish Goldman Sachs memperkuat prospek positif harga emas.
Harga emas menguat tipis pada Kamis (23/10), mengakhiri dua hari penurunan tajam karena meningkatnya ketegangan dagang AS–China kembali memicu permintaan aset safe haven. Harga spot gold naik 0,1% ke $4.102,70/oz, sementara futures emas AS menguat 1,3% ke $4.117,03/oz. Penguatan ini terjadi setelah emas sempat anjlok lebih dari 5% ke level terendah dua minggu di $4.003,39/oz akibat aksi ambil untung. Investor kini menunggu rilis data inflasi AS (CPI) yang sempat tertunda karena penutupan pemerintahan.
Sentimen pasar kembali tegang setelah laporan Reuters menyebut pemerintahan Trump berencana membatasi ekspor teknologi ke China sebagai respons atas pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing. Ketegangan ini, ditambah sanksi baru AS dan Uni Eropa terhadap Rusia, mendorong kekhawatiran geopolitik dan memperkuat minat terhadap emas. Di sisi lain, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga bulan ini dan akhir tahun memberikan dukungan tambahan, karena suku bunga lebih rendah meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Bank investasi Goldman Sachs tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas, dengan target harga $4.900 per ounce pada akhir 2026, didukung oleh pembelian besar dari bank sentral dan investor institusional. Mereka menilai koreksi harga saat ini bersifat sementara, dengan permintaan jangka panjang tetap kuat. Kenaikan juga terjadi pada logam lain seperti perak (+2,1%) dan platinum (+4%), menandakan minat pasar terhadap logam mulia masih tinggi di tengah ketidakpastian global.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Didukung oleh kekhawatiran geopolitik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dan prospek jangka panjang yang positif dari institusi besar.
Sanksi Baru AS Guncang Pasar Energi, Harga Minyak Melejit 5% ke Level Tertinggi Dua Minggu.
Sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil menimbulkan kekhawatiran pasokan global dan mendorong lonjakan harga minyak sekitar 5%.
China dan India mulai mengurangi impor minyak Rusia, mempersempit pasokan dan memperkuat tren kenaikan harga.
Harga minyak melonjak sekitar 5% ke level tertinggi dua minggu pada Kamis setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil, akibat perang Moskow di Ukraina. Keputusan ini memicu kekhawatiran pasokan global karena perusahaan energi di China dan India mulai mempertimbangkan pemangkasan impor minyak Rusia untuk menghindari risiko sanksi sekunder dari AS.
Lonjakan ini membuat Brent naik 5,4% menjadi $65,99 per barel, dan WTI menguat 5,6% menjadi $61,79 per barel — kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni. Para analis memperingatkan bahwa langkah sanksi ini bisa mengubah keseimbangan pasar minyak global menjadi defisit tahun depan. Sementara itu, beberapa perusahaan minyak besar China telah menghentikan pembelian minyak laut Rusia, dan India dikabarkan siap memangkas impor secara signifikan untuk mematuhi kebijakan baru AS.
Kuwait menyatakan bahwa OPEC siap menyeimbangkan pasar jika terjadi kekurangan pasokan, namun Rusia menegaskan bahwa penggantian minyaknya di pasar global tidak akan mudah. Meski beberapa analis menilai dampak sanksi terhadap ekspor Rusia mungkin tidak langsung besar, peningkatan biaya logistik dan pengiriman minyak secara rahasia dapat memperketat pasokan dalam jangka menengah
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish— Karena risiko geopolitik dan gangguan pasokan mendorong permintaan terhadap energi meningkat secara signifikan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Data Inflasi (Pukul 19:30):
Core CPI (MoM): Forecast (0.3%) sama dengan Previous (0.3%). Netral.
CPI (MoM): Forecast (0.4%) sama dengan Previous (0.4%). Netral.
CPI (YoY): Forecast (3.1%) lebih tinggi dari Previous (2.9%). Inflasi yang lebih tinggi dari sebelumnya ini berpotensi menguatkan USD, karena dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau mempertimbangkan kenaikan.Data PMI S&P Global (Pukul 20:45):
Manufacturing PMI: Forecast (51.9) sedikit lebih rendah dari Previous (52.0). Sedikit penurunan aktivitas manufaktur ini berpotensi sedikit melemahkan USD.
Services PMI: Forecast (53.5) lebih rendah dari Previous (54.2). Penurunan yang lebih signifikan pada aktivitas sektor jasa ini berpotensi melemahkan USD.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
