Beige Book Tunjukkan Ekonomi AS Melemah, The Fed Siap Pangkas Suku Bunga di Tengah Ketegangan Dagang Baru.
Beige Book menunjukkan ekonomi AS stagnan dengan inflasi tinggi dan pasar tenaga kerja melemah.
The Fed berpotensi memangkas suku bunga lebih cepat di tengah eskalasi perang dagang AS–China.
Ekonomi AS dilaporkan nyaris tidak berubah pada awal Oktober, menurut Beige Book Federal Reserve yang dirilis Rabu. Laporan tersebut menyoroti pelemahan belanja konsumen dan stagnasi perekrutan di tengah kenaikan tarif impor dan aturan imigrasi yang lebih ketat. Inflasi tetap tinggi akibat meningkatnya biaya input dan jasa, sementara sebagian besar distrik Fed melaporkan pertumbuhan yang datar hingga melambat. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa perekonomian berada dalam fase stagnasi dengan tekanan harga yang terus berlanjut.
Di sisi kebijakan, Gubernur The Fed Stephen Miran menyerukan pemangkasan suku bunga yang lebih cepat setelah pernyataan dovish dari Ketua Jerome Powell. Ia menilai risiko ekonomi akibat ketegangan dagang AS–China kini meningkat tajam, sehingga The Fed perlu “bergerak cepat menuju kebijakan netral.” Pasar kini memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga tambahan pada sisa tahun 2025. Powell sendiri menegaskan bahwa outlook inflasi dan ketenagakerjaan tidak banyak berubah, namun mengakui pasar tenaga kerja mulai melemah.
Ketegangan AS–China kembali memanas setelah Presiden Trump menuduh Beijing bertindak “secara ekonomi bermusuhan” karena menolak membeli kedelai AS, dan mengancam memutus sebagian hubungan dagang. Langkah saling balas tarif dan biaya pelabuhan memperburuk ketidakpastian global, membuat investor beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi rate cut The Fed dan menekan dolar AS, memberikan dorongan tambahan bagi reli harga emas.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish indeks saham AS – Ekspektasi pemangkasan suku bunga, melemahnya ekonomi AS, dan meningkatnya ketegangan geopolitik memperkuat permintaan aset aman — menjadikan prospek harga emas tetap kuat bullish.
Emas Tembus Rekor $4.218, Trump Ancam Putus Dagang dengan China dan The Fed Makin Dovish.
Trump mengancam memutus sebagian hubungan dagang dengan China, memicu lonjakan permintaan aset aman.
Sikap dovish The Fed dan kekhawatiran stagflasi memperkuat prospek pemangkasan suku bunga.
Harga emas melesat ke rekor baru di $4.218 per troy ons pada Rabu, naik lebih dari 1,4% di tengah meningkatnya ketegangan dagang AS–China dan kekhawatiran stagflasi AS. Pernyataan dovish Ketua The Fed Jerome Powell dan laporan Beige Book yang menunjukkan ekonomi stagnan namun inflasi tetap tinggi memperkuat permintaan aset aman. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS stabil dan indeks dolar melemah 0,28% ke 98,75, memberi dukungan tambahan bagi emas.
Presiden AS Donald Trump memicu lonjakan harga setelah menyatakan kemungkinan “memutus sebagian hubungan dagang” dengan China, menyusul aksi saling balas tarif dan biaya pelabuhan antara kedua negara. Di sisi lain, usulan gencatan tarif dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent diabaikan pasar, karena investor tetap mencari lindung nilai terhadap ketidakpastian global dan penutupan pemerintahan AS yang telah berlangsung 15 hari.
Secara fundamental, emas telah naik lebih dari 60% sepanjang tahun 2025, didorong oleh pembelian besar bank sentral, aliran dana kuat ke ETF emas, serta ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir tahun. Kombinasi faktor dovish Fed, melemahnya dolar, dan eskalasi geopolitik menjadikan tren emas masih kuat naik.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Harga emas berpotensi lanjut menguat karena kombinasi tekanan geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga, dan pelemahan dolar AS memperkuat minat terhadap aset aman.
Harga Minyak Merosot ke Level Terendah 5 Bulan, Tekanan Datang dari Perang Dagang dan Prospek Surplus Pasokan 2026.
IEA memperkirakan surplus pasokan minyak hingga 4 juta barel per hari pada 2026.
Perang dagang AS–China dan ancaman tarif baru menekan permintaan energi global.
Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan dagang AS–China dan prediksi International Energy Agency (IEA) tentang surplus pasokan pada 2026. Brent ditutup turun 0,8% ke $61,91 per barel, sementara WTI turun 0,7% ke $58,27. Bank of America memperingatkan harga bisa jatuh di bawah $50 jika perang dagang memburuk dan OPEC+ meningkatkan produksi.
Ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia kembali memanas setelah AS dan China saling memberlakukan biaya tambahan untuk pengiriman kapal dan ancaman tarif 100% oleh Trump terhadap produk China. Sementara itu, IEA memperkirakan kelebihan pasokan global hingga 4 juta barel per hari tahun depan, menambah tekanan pada harga. Kondisi ini diperparah oleh deflasi di China dan lemahnya permintaan global yang menekan outlook ekonomi.
Meskipun ada potensi pemotongan suku bunga The Fed yang bisa mendukung permintaan minyak, pasar tetap fokus pada risiko perlambatan ekonomi akibat perang dagang dan peningkatan produksi global. Dengan kombinasi sentimen negatif ini, harga minyak berisiko lanjut melemah.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Harga minyak berpotensi turun lebih dalam karena kombinasi tekanan dari surplus pasokan, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi global yang menekan prospek permintaan energi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- GDP (GBP): Perkiraan pertumbuhan ekonomi bulanan yang sedikit membaik (0.1% vs 0.0%) merupakan sinyal positif, yang berpotensi mendukung GBP (⬆️).
- Philadelphia Fed Manufacturing Index: Penurunan tajam pada indeks aktivitas manufaktur (8.6 vs 23.2) merupakan sinyal negatif yang signifikan untuk sektor manufaktur AS, berpotensi menekan USD (⬇️).
- Crude Oil Inventories: Perkiraan penambahan stok yang jauh lebih kecil dari periode sebelumnya (0.120M vs 3.715M) dapat mengindikasikan permintaan yang lebih kuat, yang merupakan sinyal positif bagi ekonomi dan berpotensi mendukung USD (⬆️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
