Wall Street Merosot Akibat Ancaman Baru Trump pada China dan Isyarat Dovish dari The Fed.

  • Trump kembali mengancam China dengan pemutusan hubungan dagang dan tarif baru, memicu kekhawatiran perang dagang jilid dua.

  • Powell memberi sinyal QT akan segera dihentikan, memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Pasar saham AS ditutup melemah pada Selasa setelah Presiden Donald Trump kembali memicu ketegangan dagang dengan China. Trump menuduh Beijing sengaja tidak membeli kedelai AS dan mengancam akan memutus hubungan dagang terkait minyak goreng, hanya beberapa hari setelah ia mengancam tarif tambahan 100% terhadap produk China. Ketegangan ini membuat investor keluar dari aset berisiko, menekan S&P 500 turun 0,2%, sementara Nasdaq dan Dow Jones masing-masing merosot 0,8%.

Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa program quantitative tightening (QT) atau pengurangan neraca mungkin segera berakhir. Ia menilai kondisi likuiditas keuangan mulai mengetat, dan Fed akan berhati-hati agar tidak mengulang gejolak pasar uang seperti 2019. Pernyataan ini mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih tinggi, menyebabkan imbal hasil obligasi AS turun tajam.

Laporan keuangan bank besar seperti JPMorgan dan Wells Fargo menunjukkan kinerja positif, namun pasar tetap terbebani oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, dan perlambatan ekonomi akibat perang dagang. Investor kini menanti langkah lanjutan Fed dan arah kebijakan Trump terhadap China untuk menentukan arah pasar ke depan.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk Dollar AS – Karena meningkatnya ketegangan dagang AS–China dan ancaman kebijakan proteksionis Trump memicu pelarian dari aset berisiko, sementara komentar dovish Powell belum cukup mengangkat kepercayaan investor terhadap ekonomi AS.

Emas Bertahan di Atas $4.100 Didukung Shutdown AS dan Ketegangan Dagang AS–China.

  • Emas bertahan di atas $4.100 karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan melemahnya dolar AS.

  • Ketegangan dagang AS–China dan shutdown pemerintahan memperkuat permintaan aset aman.

Harga emas tetap kuat di atas level psikologis $4.100 pada Selasa setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang bersikap netral, namun menegaskan pendekatan meeting-by-meeting dalam kebijakan suku bunga. Meskipun Powell menyebut ekonomi AS berada pada jalur yang lebih solid, pasar tetap menilai peluang pemangkasan suku bunga 25 bps pada 29 Oktober mencapai 96%. Ketidakpastian akibat shutdown pemerintah AS yang memasuki hari ke-14 turut memperkuat permintaan aset aman seperti emas.

Lonjakan harga emas juga dipicu meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China. Presiden Donald Trump mengancam tarif tambahan 100% terhadap produk China, sementara Beijing membalas dengan pembatasan ekspor rare earth dan biaya pelabuhan baru untuk kapal AS. Situasi ini menambah tekanan terhadap dolar AS, yang melemah 0,25% menjadi 99.00, serta menurunkan imbal hasil obligasi 10-tahun AS ke 4,02%. Kondisi tersebut membuat emas semakin menarik di tengah gejolak geopolitik.

Dari sisi ekonomi domestik, data NFIB menunjukkan penurunan sentimen bisnis kecil AS akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi berbasis tarif. Namun, Powell menilai inflasi saat ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga barang karena tarif, bukan tekanan inflasi umum. Dengan latar belakang ini, emas tetap diminati sebagai lindung nilai terhadap risiko pasar dan potensi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — Karena kombinasi ekspektasi rate cut, pelemahan dolar AS, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor tetap mencari perlindungan pada emas sebagai aset safe haven utama.

Minyak Tergelincir ke Level Terendah 5 Bulan, IEA Peringatkan Banjir Pasokan Global di 2026.

  • IEA memprediksi surplus pasokan minyak hingga 4 juta barel per hari pada 2026.

  • Ketegangan dagang AS–China menekan prospek permintaan energi global.

Harga minyak dunia anjlok hingga 1,5% pada Selasa (14/10), menandai penurunan ke level terendah dalam lima bulan. Penurunan ini dipicu oleh laporan International Energy Agency (IEA) yang memperingatkan potensi surplus pasokan besar mencapai 4 juta barel per hari pada 2026. Brent ditutup di $62,39 per barel dan WTI di $58,70, menandakan tekanan kuat dari sisi fundamental pasar.

Selain kekhawatiran pasokan berlebih, ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memicu kekhawatiran terhadap permintaan energi global. Ancaman tarif tambahan hingga 100% dan pembatasan ekspor langka membuat investor waspada, menekan sentimen terhadap harga minyak. Spread antara kontrak jangka pendek dan panjang yang semakin sempit juga mengindikasikan pasokan jangka pendek yang melimpah dan melemahnya permintaan spot.

 

Meskipun beberapa analis memperkirakan pasar minyak bisa mengetat dalam jangka menengah, sentimen jangka pendek tetap didominasi kekhawatiran pasokan berlebih dan permintaan global yang melemah akibat tensi geopolitik.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Harga minyak berada di bawah tekanan karena kombinasi antara proyeksi surplus pasokan besar dan ketegangan dagang yang mengancam permintaan global. Selama prospek pasokan melimpah dan tensi AS–China belum mereda, arah harga minyak berpotensi lanjut turun.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada rilis data ekonomi hari ini yang diperkirakan akan menyebabkan perubahan signifikan di pasar. Namun, pelaku pasar tetap akan mencermati pergerakan harga teknikal dan sentimen global sebagai panduan arah selanjutnya.

 

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: