Trump Lembutkan Nada Perang Dagang, Dolar AS Menguat Tajam di Tengah Ketidakpastian Global.

  • Trump melunakkan nada terhadap China, membuat dolar AS rebound kuat dari tekanan pekan lalu.

  • Ekspektasi The Fed menahan pemangkasan suku bunga memperkuat daya tarik dolar sebagai aset aman.

Dolar AS menguat terhadap euro, yen, dan franc Swiss pada Senin (13/10), setelah Presiden Donald Trump melunakkan pernyataannya terkait tarif 100% untuk China yang diumumkan pekan lalu. Pernyataan Trump bahwa “semuanya akan baik-baik saja dengan China” meredakan kekhawatiran pasar dan memicu rebound dolar dari pelemahan sebelumnya. Indeks dolar naik 0,2% ke 99,25, sementara USD/JPY melonjak ke 152,36 di tengah volume perdagangan tipis akibat libur di Jepang.

Namun, investor tetap berhati-hati menjelang pertemuan Trump dan Presiden Xi di Korea Selatan akhir Oktober. Ketegangan dagang yang belum tuntas menimbulkan ketidakpastian terhadap keputusan suku bunga The Fed. Analis dari Macquarie menilai jika prospek tarif tinggi masih ada hingga akhir bulan, The Fed bisa menunda pemangkasan suku bunga, atau bahkan mengambil langkah “hawkish cut” untuk menahan inflasi.

Pasar kini menilai bahwa arah dolar AS akan tetap kuat hingga tenggat negosiasi 10 November. Potensi de-eskalasi sementara memberi ruang penguatan jangka pendek bagi greenback, meski risiko volatilitas tetap tinggi di tengah perang dagang yang belum berakhir sepenuhnya.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk Dollar AS – Pelunakan retorika Trump menenangkan pasar, sementara prospek suku bunga yang tetap tinggi mendukung penguatan dolar sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Emas Tembus Rekor $4.100: Pelarian Investor di Tengah Kekacauan Politik dan Tarif Dagang AS–China.

  • Emas menembus rekor baru $4.100 akibat lonjakan permintaan safe haven di tengah perang dagang dan shutdown AS.

  • Yield obligasi AS turun tajam dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed memperkuat sentimen bullish pada emas.

Harga emas melonjak hampir 2% ke rekor baru di atas $4.100 per ons pada Senin (13/10), didorong lonjakan permintaan aset aman akibat gejolak politik global, perang dagang AS–China, dan penutupan pemerintahan AS yang masih berlanjut. Meski Presiden Donald Trump melunak dari ancaman tarif 100% untuk barang China, ketidakpastian tetap tinggi jelang pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping akhir bulan ini.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS 10 tahun anjlok delapan basis poin ke 4,05%, sementara yield riil turun 8,5 bps — kondisi yang historisnya memperkuat harga emas. Bank besar seperti Goldman Sachs dan Standard Chartered juga menaikkan proyeksi harga emas untuk 2026 hingga mendekati $5.000, didorong oleh lonjakan pembelian emas oleh bank sentral dan arus masuk besar ke ETF emas.

Dengan pemerintah AS lumpuh dan data ekonomi tertunda, fokus pasar kini tertuju pada pidato pejabat The Fed Anna Paulson malam ini serta peluang pemangkasan suku bunga 25 bps pada pertemuan 29 Oktober yang mencapai probabilitas 97%. Kombinasi ketidakpastian geopolitik, pelemahan yield, dan prospek suku bunga lebih rendah memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai utama.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish —Kombinasi ketegangan geopolitik, penurunan yield, ekspektasi pemangkasan suku bunga, dan pembelian besar oleh bank sentral menciptakan dorongan fundamental yang solid bagi reli emas untuk berlanjut.

WTI Mengendur: Pasokan Melimpah OPEC+ dan Shutdown Kilang Tekan Premi Minyak AS.

  • Struktur pasar minyak melemah, backwardation menyempit karena pasokan OPEC+ melimpah dan permintaan musiman AS menurun.

  • Optimisme pertemuan Trump–Xi menahan penurunan harga, tetapi surplus pasokan tetap menjadi tekanan utama.

Harga minyak AS (WTI) naik tipis ke $59,49 per barel pada Senin (13/10), namun struktur pasar menunjukkan pelemahan signifikan. Selisih harga antara kontrak jangka pendek dan panjang (backwardation) menyempit ke level terendah sejak Januari 2024, menandakan pasokan jangka pendek melimpah akibat peningkatan produksi OPEC+ dan penurunan aktivitas kilang AS. Dengan premi hanya 47 sen, pasar kini mendekati kondisi contango, yang mencerminkan ekspektasi permintaan lemah di masa dekat.

Kenaikan produksi OPEC+ sebesar 2,7 juta barel per hari atau sekitar 2,5% dari permintaan global menimbulkan kekhawatiran surplus. Sementara itu, pemeliharaan musiman kilang AS menekan tingkat utilisasi menjadi 92,5%, terendah sejak awal musim panas. Investor kini menilai pasar minyak berpotensi longgar hingga 2026, seiring laporan stok terapung meningkat dan permintaan bahan bakar menurun.

Meski ada sentimen positif dari rencana pertemuan Trump–Xi yang menurunkan ketegangan dagang, harga minyak tetap tertahan karena prospek perdamaian di Timur Tengah dan pandangan OPEC bahwa defisit pasokan global akan jauh berkurang tahun depan. Minimnya risiko geopolitik dan pasokan yang berlimpah membuat potensi reli minyak terbatas dalam waktu dekat.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Sinyal pasokan berlebih, penurunan permintaan jangka pendek, dan potensi perubahan struktur pasar ke contango menandakan lemahnya fundamental minyak, meskipun ada sedikit dukungan dari sentimen diplomatik AS–China.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • German CPI: Kenaikan inflasi yang diperkirakan (0.2% vs 0.1%) dapat diartikan sebagai sinyal positif bagi ekonomi zona Euro, berpotensi mendukung EUR (⬆️).

  • Pidato Ketua Fed Powell: Ini akan menjadi penggerak pasar utama. Nada hawkish akan mendukung USD, sementara nada dovish akan menekan USD.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: