Dow Tembus Rekor di Tengah Ancaman Shutdown dan Gelombang Tarif Baru.

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • Optimisme pemangkasan suku bunga The Fed tetap menopang kenaikan indeks utama AS.

  • Ancaman shutdown pemerintah dan tarif baru menciptakan risiko politik dan ekonomi, tetapi tidak menghentikan reli pasar, khususnya saham AI.

Indeks Dow Jones ditutup pada rekor tertinggi 46.397,83 pada Selasa, didorong optimisme investor terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dan tren positif saham AI, meski kekhawatiran akan shutdown pemerintah AS meningkat. S&P 500 naik 0,4% dan Nasdaq Composite bertambah 0,3%, menandakan Wall Street tetap optimistis meski risiko politik dan data tenaga kerja tertunda. Kenaikan bulanan tetap solid dengan Nasdaq memimpin, naik lebih dari 5% sepanjang September.

Kegagalan Kongres untuk menyetujui perpanjangan pendanaan akan memicu shutdown, terutama terkait perbedaan soal belanja kesehatan dan program kesejahteraan sosial. Shutdown berpotensi menunda rilis data Nonfarm Payrolls September, yang menjadi panduan bagi kebijakan suku bunga Fed selanjutnya. Sementara itu, data lowongan kerja JOLTS untuk Agustus menunjukkan 7,2 juta lowongan, melampaui ekspektasi 7,19 juta.

Investor juga harus menghadapi gelombang tarif baru dari pemerintahan Trump, termasuk 10% untuk kayu lunak, 25% untuk kabinet dan furnitur, yang berlaku mulai 14 Oktober. Saham-saham AI tetap menjadi sorotan, dengan CoreWeave naik 12% setelah kesepakatan $14,2 miliar dan Nvidia menambah 2% dari kenaikan sebelumnya. Dorongan dari sektor teknologi dan ekspektasi Fed mendukung sentimen pasar meski risiko shutdown tetap ada.

Source materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk indeks saham AS – Walaupun risiko shutdown dan tarif baru muncul, optimisme investor terhadap pemangkasan suku bunga Fed, rebound saham teknologi/AI, dan data lowongan kerja yang solid tetap mendorong indeks utama AS ke rekor tinggi.

XAU/USD Naik ke $3,846 Didukung Ketegangan Shutdown dan Ekspektasi Fed.

  • Ancaman shutdown pemerintah AS dan pelemahan dolar mendorong aliran modal ke emas.

  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed tetap tinggi (96% probabilitas), memperkuat daya tarik emas sebagai safe-haven

Harga emas (XAU/USD) bergerak di level $3,846 pada Selasa, mendekati rekor tertinggi $3,871 yang dicapai pada sesi Asia, setelah kekhawatiran akan shutdown pemerintah AS mendorong investor mencari aset safe-haven. Data tenaga kerja terbaru dari JOLTS menunjukkan lowongan pekerjaan naik tipis, namun Consumer Confidence menurun, menandakan prospek pasar tenaga kerja dan bisnis yang melemah. Sentimen pasar memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober, dengan probabilitas 96% untuk penurunan 25 basis poin.

Pergerakan emas juga didukung oleh pelemahan dolar AS, dengan indeks DXY turun 0,17% ke 97,78. Data lowongan kerja menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja meski lowongan sedikit meningkat, sedangkan tingkat hiring turun ke level terendah sejak Juni 2024. Konsumen menunjukkan kepercayaan menurun ke level terendah sejak April 2025, memperkuat sentimen negatif terhadap ekonomi AS dan mendukung aliran modal ke emas.

Selain itu, komentar pejabat Fed seperti Philip Jefferson, Susan Collins, dan Austan Goolsbee menekankan pasar tenaga kerja yang melunak dan potensi pemangkasan suku bunga bertahap. Dengan kombinasi risiko shutdown, data ekonomi lemah, dan ekspektasi Fed dovish yang tinggi, emas tetap menjadi aset menarik bagi investor yang mencari perlindungan dari ketidakpastian.

Source materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — Alasannya, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan The Fed, turunnya imbal hasil obligasi AS, serta meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian geopolitik mendorong reli emas dan memperkuat prospek kenaikan lebih lanjut.

Minyak Tertekan di Tengah Kekhawatiran OPEC+ dan Lonjakan Ekspor Kurdistan.

  • Risiko pasokan meningkat: OPEC+ mempertimbangkan kenaikan produksi besar-besaran dan ekspor Kurdistan kembali, menekan harga.

  • Permintaan tetap lemah: Ketidakpastian shutdown pemerintah AS dan kondisi ekonomi global menahan momentum bullish minyak.

Harga minyak mentah AS sedikit menguat pada Selasa setelah laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan stok domestik mingguan sebesar 3,7 juta barel, melebihi ekspektasi pasar. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di $62,43 per barel, meski sentimen tetap rapuh akibat kekhawatiran rencana peningkatan produksi OPEC+ pada November. Brent untuk kontrak November ditutup turun 1,4% di $67,02 per barel.

OPEC+ diperkirakan mempertimbangkan percepatan kenaikan produksi hingga 274.000–411.000 barel per hari, bahkan kemungkinan mencapai 500.000 bpd, untuk mengamankan pangsa pasar global. Sementara itu, ekspor minyak dari wilayah semi-otonom Kurdistan ke Turki kembali mengalir untuk pertama kali dalam dua setengah tahun, menambah tekanan pasokan global. Analis memperingatkan tambahan pasokan ini dapat menekan margin produsen shale AS dan menahan kenaikan harga.

Di sisi permintaan, ketidakpastian terkait potensi shutdown pemerintah AS dan perlambatan ekonomi global membuat pasar tetap hati-hati. Meskipun serangan drone Ukraina ke kilang Rusia dan ketegangan geopolitik di Gaza menjadi faktor pendukung, risiko kelebihan pasokan dan peningkatan produksi OPEC+ mendominasi sentimen. Pasar kini menunggu laporan resmi stok minyak mingguan dari EIA dan data permintaan untuk menentukan arah jangka pendek harga.

Source materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Meski ada penurunan stok minyak mingguan, tekanan dari potensi kenaikan pasokan OPEC+ dan ekspor Kurdistan, ditambah ketidakpastian permintaan, lebih dominan sehingga menekan harga minyak dalam jangka pendek.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • CPI (EUR): Kenaikan inflasi yang diperkirakan (2.2% vs 2.0%) dapat mendorong ECB untuk mempertahankan kebijakan yang ketat, berpotensi mendukung EUR (⬆️).

  • ADP Nonfarm Employment: Penurunan perkiraan pertumbuhan pekerjaan (52K vs 54K) adalah sinyal negatif kecil untuk pasar tenaga kerja, berpotensi menekan USD (⬇️).

  • S&P Global Manufacturing PMI: Perlambatan pada sektor manufaktur (52.0 vs 53.0) juga merupakan sinyal negatif, berpotensi menekan USD (⬇️).

  • ISM Manufacturing PMI: Sebaliknya, data ini diperkirakan sedikit membaik (49.0 vs 48.7), yang bisa memberikan sedikit dukungan untuk USD (⬆️).

  • ISM Manufacturing Prices: Penurunan harga produsen (62.6 vs 63.7) dapat mengurangi tekanan inflasi, yang berpotensi menekan USD (⬇️).

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: