Dolar AS Tertekan, Fed Rate Cut Makin Dekat.
Fed diperkirakan memangkas suku bunga 25 bps minggu ini, memperkuat outlook pelemahan dolar AS.
Wall Street cetak rekor baru, menandakan risk appetite tetap tinggi meski ada ketidakpastian inflasi.
Dolar AS berpotensi melanjutkan pelemahannya hingga akhir tahun, seiring ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan pekan ini. Laporan tenaga kerja yang melemah dan data manufaktur New York yang merosot semakin memperkuat peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps, dengan probabilitas mencapai 95% menurut CME FedWatch Tool. ING bahkan memproyeksikan EUR/USD dapat menembus 1,20 pada akhir tahun karena kombinasi pelemahan musiman dolar dan siklus pelonggaran baru The Fed.
Sementara itu, Wall Street mencetak rekor baru dengan S&P 500 ditutup di 6.617, didorong reli saham teknologi seperti Tesla, Nvidia, dan Oracle. Optimisme investor terhadap pemangkasan suku bunga telah memperkuat selera risiko, sehingga mendukung penguatan aset berisiko dan menekan dolar lebih jauh. Kondisi ini menandai bahwa pasar lebih melihat sisi positif dari kebijakan pelonggaran moneter, meskipun inflasi AS masih menunjukkan tanda-tanda kekakuan.
Dari sisi global, pergerakan dolar yang melemah diperkirakan menguntungkan mata uang mayor lain seperti euro, pound, dan aussie, sementara yen berisiko tertekan akibat ketidakpastian politik di Jepang. Di sisi korporasi, lonjakan saham Tesla dan penguatan sektor AI lewat Nvidia dan Oracle semakin mempertegas narasi risk-on di pasar.
Source: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk Dollar AS – Pelemahan data tenaga kerja, ekspektasi pemangkasan suku bunga beruntun, serta sentimen risk-on yang mendukung aset berisiko membuat outlook dolar AS kuat bearish. Faktor fundamental moneter menjadi katalis utama yang menekan greenback ke level lebih rendah hingga akhir tahun.
Emas Sentuh Rekor Baru, Fokus Tertuju ke Keputusan The Fed.
Harga emas menembus rekor baru di $3.682, dengan target terdekat $3.700.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed semakin kuat, didukung pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi.
Harga emas melonjak menembus rekor sebelumnya di $3.674 hingga mencapai $3.682 per ons pada Senin (15/9), dengan potensi menantang level psikologis $3.700. Kenaikan lebih dari 1% ini didorong oleh ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC 16–17 September. Penurunan imbal hasil obligasi AS serta melemahnya dolar AS turut memperkuat reli emas.
Dukungan terhadap emas datang dari data tenaga kerja AS yang direvisi turun 911 ribu pekerjaan, menimbulkan kekhawatiran melemahnya pasar kerja. Sinyal dovish dari Ketua Fed Jerome Powell pada Jackson Hole Symposium akhir Agustus memperbesar peluang pemangkasan suku bunga 25 bps, bahkan sebagian pihak memprediksi ruang pemangkasan 50 bps. Investor juga menantikan proyeksi ekonomi terbaru dan “dot plot” dari Fed untuk membaca arah kebijakan moneter jangka menengah.
Selain faktor Fed, sentimen pasar juga dipengaruhi pelemahan indeks dolar (DXY) ke 97,29 serta melemahnya kepercayaan konsumen AS. Sementara Presiden Donald Trump kembali menekan Fed agar melakukan pemangkasan lebih besar, Deutsche Bank memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga 25 bps pada tiga pertemuan tersisa tahun ini. Kombinasi ini membuat emas semakin diminati sebagai aset lindung nilai.
Source: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Reli emas ditopang kombinasi faktor makro: pelemahan dolar, turunnya yield obligasi, revisi negatif data tenaga kerja, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Dengan arah kebijakan moneter yang cenderung longgar, outlook emas kuat bullish dalam jangka pendek menuju $3.700.
Minyak Menguat di Tengah Serangan Ukraina dan Tekanan Trump pada NATO.
Serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia dan tekanan Trump pada NATO memperketat pasokan minyak.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed dan pelemahan dolar AS berpotensi meningkatkan permintaan minyak.
Harga minyak ditutup lebih tinggi pada Senin (15/9) setelah serangan drone Ukraina memaksa penutupan sebagian kilang Kirishi di Rusia dan Presiden AS Donald Trump menekan negara-negara NATO untuk menghentikan pembelian minyak Rusia. Brent naik 0,67% ke $67,44 per barel, sementara WTI menguat 0,97% ke $63,30 per barel. Situasi ini menambah kekhawatiran pasokan, terutama pada minyak berat dan solar yang semakin ketat.
Selain itu, pasar mendapat dukungan dari permintaan kilang yang solid di China, penurunan persediaan minyak mentah AS, serta pelemahan dolar AS menjelang keputusan suku bunga The Fed. Ekspektasi pemangkasan suku bunga 25 bps pada 16–17 September diperkirakan dapat mendorong konsumsi energi, sementara melemahnya dolar membuat harga minyak lebih murah bagi pembeli non-dolar.
Namun, tensi geopolitik terus menambah lapisan risiko. Trump mengancam sanksi tambahan pada Rusia jika NATO tidak kompak, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Eropa mengambil peran lebih besar. Ketidakpastian sanksi, dikombinasikan dengan potensi pemangkasan pasokan Rusia akibat serangan Ukraina, menjaga harga minyak tetap kokoh meskipun ada bayangan perlambatan ekonomi global.
Source: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Harga minyak mendapat dorongan ganda dari sisi pasokan (serangan Ukraina & sanksi) dan sisi permintaan (ekspektasi Fed cut & pelemahan dolar). Kombinasi geopolitik dan kebijakan moneter mendukung sentimen kuat bullish dalam jangka pendek.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi EUR dan USD:
Core Retail Sales: Peningkatan penjualan ritel inti (0.4% vs 0.3%) merupakan sinyal positif untuk belanja konsumen, yang berpotensi mendukung USD (⬆️).
Retail Sales: Sebaliknya, penurunan penjualan ritel secara keseluruhan (0.2% vs 0.5%) merupakan sinyal negatif, yang berpotensi menekan USD (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
