Dolar AS Melemah, Fokus Bergeser ke Data Kepercayaan Konsumen Michigan.
Inflasi masih jadi kekhawatiran utama, melemahkan kepercayaan konsumen.
Ekspektasi pasar atas keputusan suku bunga The Fed semakin bergantung pada data Michigan.
Dolar AS tertekan pada perdagangan Kamis, dengan Indeks DXY melemah 0,3% pasca rilis data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Fokus pasar kini tertuju pada rilis Michigan Consumer Confidence Index yang akan diumumkan Jumat, dengan proyeksi berada di level 58,0, sedikit di bawah bulan sebelumnya. Angka ini dipandang penting karena mencerminkan kekuatan belanja konsumen, yang berperan besar dalam menjaga momentum ekonomi AS di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed.
Penurunan kepercayaan konsumen pada Agustus memperlihatkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga AS. Inflasi yang berlarut-larut terus mengikis daya beli, sementara tarif impor menekan pembelian barang tahan lama, terutama di sektor otomotif yang jatuh ke level terendah dalam setahun. Survei juga menunjukkan 43% responden merasa standar hidupnya terganggu oleh inflasi, menandakan tekanan biaya hidup tetap menjadi masalah utama.
Kondisi pasar tenaga kerja ikut menambah kekhawatiran. Sebanyak 63% responden memperkirakan pengangguran akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, naik signifikan dibanding tahun lalu. Kombinasi inflasi yang melemahkan konsumsi dan ketidakpastian lapangan kerja membuat outlook dolar AS cenderung bearish, seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed untuk menopang ekonomi.
Source: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Dollar AS – Data inflasi yang sesuai ekspektasi namun disertai lonjakan klaim pengangguran serta revisi tajam payroll memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Hal ini menekan imbal hasil obligasi AS dan membuat Dolar AS kehilangan daya tarik, sehingga membuka ruang pelemahan lebih lanjut.
Emas Masih Tertekan, Namun Prospek Rate Cut Fed Menopang Harga.
Data inflasi AS sesuai perkiraan dan lonjakan klaim pengangguran memperkuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed.
Ketidakpastian geopolitik, termasuk ketegangan Rusia–NATO, menjaga minat terhadap emas sebagai aset safe haven.
Harga emas sempat memangkas pelemahan pada Kamis, meski masih ditutup turun tipis 0,14% di sekitar $3.635 per troy ounce. Data inflasi konsumen AS (CPI) sesuai perkiraan, namun klaim tunjangan pengangguran melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga minggu depan. Pasar kini menilai peluang 90% untuk pemangkasan 25 bps, sementara kemungkinan 50 bps hanya 10%.
Di tengah melemahnya dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi AS, emas seharusnya mendapat dukungan lebih kuat. Namun, aksi ambil untung membatasi kenaikan, meski faktor geopolitik—termasuk insiden drone Rusia yang ditembak jatuh oleh Polandia di wilayah NATO—berpotensi menambah daya tarik safe haven emas.
Secara fundamental, kombinasi inflasi yang terkendali, meningkatnya klaim pengangguran, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menciptakan pondasi bullish bagi emas. Dengan ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, permintaan lindung nilai aset aman tetap terjaga meskipun harga emas mengalami konsolidasi jangka pendek.
Source: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed ditambah ketegangan geopolitik menjadi kombinasi yang solid untuk menopang kenaikan harga emas, meskipun ada tekanan profit-taking jangka pendek.
Harga Minyak Tergelincir: Oversupply Tekan Pasar Meski Geopolitik Memanas.
Laporan IEA menyoroti potensi oversupply global akibat kenaikan produksi OPEC+ dan Rusia.
Meski geopolitik memanas, pasar tetap lebih fokus pada kelebihan pasokan yang menekan harga.
Harga minyak jatuh sekitar 2% pada Kamis, dengan Brent ditutup di $66,37 per barel dan WTI di $62,37. Penurunan ini terjadi setelah laporan bulanan International Energy Agency (IEA) memproyeksikan pasokan minyak global tahun ini meningkat lebih cepat dari perkiraan akibat kenaikan produksi OPEC+ dan Rusia. Kekhawatiran oversupply menekan harga lebih dalam dibanding ancaman pasokan dari konflik di Timur Tengah dan Ukraina.
Meski OPEC+ sebelumnya sepakat meningkatkan produksi mulai Oktober, OPEC sendiri tetap mempertahankan proyeksi permintaan stabil. Sementara itu, ekspor Saudi Arabia ke Tiongkok melonjak, tetapi investor meragukan berapa lama Tiongkok dapat menyerap pasokan tersebut. Tekanan tambahan datang dari India yang membatasi masuknya tanker minyak Rusia di pelabuhan swasta, menambah ketidakpastian pada distribusi global.
Di sisi makro, inflasi AS melonjak di Agustus, namun klaim pengangguran yang tinggi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pekan depan. Meski pelonggaran moneter biasanya mendukung permintaan energi, saat ini sentimen pasar masih didominasi oleh kekhawatiran banjir pasokan yang membuat harga minyak sulit bangkit.
Source: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Proyeksi oversupply dari IEA dan peningkatan produksi OPEC+ menimbulkan tekanan dominan, membuat harga minyak berpotensi lanjut melemah meski ada dukungan geopolitik.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP dan EUR:
- GDP (MoM): Perlambatan signifikan pada pertumbuhan ekonomi Inggris (0.0% vs 0.4%) merupakan sinyal negatif, yang berpotensi menekan GBP (⬇️).
- German CPI (MoM): Penurunan inflasi di Jerman (0.1% vs 0.3%) juga merupakan sinyal negatif untuk ekonomi zona Euro, yang berpotensi menekan EUR (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
