Dolar AS Gagal Rebound, Fokus Pasar Beralih ke The Fed.
Fokus pasar beralih dari perang dagang ke arah kebijakan Federal Reserve.
Data ketenagakerjaan AS akan sangat menentukan arah dolar dalam waktu dekat.
Dolar AS sempat menguat di awal pekan setelah berbulan-bulan tertekan isu perang dagang. Namun, euforia meredanya ketegangan dagang kini tak cukup kuat menopang reli lanjutan. Menurut Standard Chartered, pelemahan dolar selanjutnya lebih mungkin disebabkan oleh sikap dovish Federal Reserve daripada sentimen risk-on pasca perjanjian dagang. Artinya, pasar sudah sepenuhnya memasukkan kabar baik dari kesepakatan dagang ke dalam harga.
Dengan kekhawatiran perang dagang mereda, fokus pasar kini beralih ke prospek kebijakan The Fed. Meski belum ada ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan 30 Juli, nada pidato Ketua Jerome Powell bisa menjadi katalis pergerakan besar. Jika inflasi yang dipicu tarif dianggap hanya sementara, The Fed berpeluang membuka ruang pelonggaran. Perbedaan pandangan di internal FOMC kini menyempit pada soal dampak tarif, yang masih diperdebatkan.
Selanjutnya, laporan ketenagakerjaan AS menjadi data krusial. Jika angka payroll lebih lemah dari perkiraan 109 ribu, dolar bisa kembali tertekan akibat meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga. Meski demikian, Standard Chartered memperkirakan pelemahan dolar hanya bersifat terbatas dalam beberapa bulan mendatang, kecuali ada perubahan besar dalam arah kebijakan The Fed.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen dolar AS cenderung bearish, dengan tekanan utama berasal dari ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed dan potensi data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan.
Emas Terkikis Optimisme: Data Ekonomi Kuat Tahan Pemangkasan Suku Bunga.
Kesepakatan dagang AS-Uni Eropa menekan permintaan safe haven emas.
Dolar AS dan yield obligasi menguat, menjadi hambatan besar bagi emas.
Harga emas (XAU/USD) turun lebih dari 0,60% dan mencatat penurunan empat hari berturut-turut, diperdagangkan di kisaran $3.312. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa mencapai kesepakatan dagang yang menurunkan tarif impor dari 30% menjadi 15%, mengurangi ketegangan perdagangan dan meningkatkan sentimen risiko pasar.
Penguatan Dolar AS semakin menekan harga emas, tercermin dari lonjakan Indeks Dolar (DXY) sebesar 0,99% ke level 98.64. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik menjadi 4,410% dan yield riil mendekati 2%, memperkuat tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil. Meskipun sebagian ketidakpastian perdagangan mereda, negosiasi yang belum selesai dengan Kanada dan Meksiko masih menyisakan ruang risiko.
Fokus pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed pada 30 Juli mendatang, yang hampir pasti akan tetap ditahan. Namun, pernyataan Jerome Powell dan data ekonomi AS minggu ini — termasuk PDB, data ketenagakerjaan, ISM Manufaktur, dan Core PCE — akan menjadi penentu arah selanjutnya. Dalam jangka pendek, outlook tetap bearish untuk emas.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen untuk emas saat ini bearish.
Minyak Meledak! Tekanan Baru ke Rusia & Kesepakatan Dagang AS-EU Bikin Harga Terbang.
Kesepakatan dagang AS-UE senilai $750 miliar memperkuat posisi energi AS dan tekan Rusia.
Ultimatum Trump mempercepat tenggat waktu Rusia, memicu lonjakan harga minyak.
Harga minyak melonjak sekitar 2% pada hari Senin setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang besar dengan Uni Eropa serta mempercepat tenggat waktu bagi Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina dari 50 hari menjadi hanya 10-12 hari. Brent naik ke $70,04 per barel dan WTI ke $66,71, menandai level tertinggi dalam 10 hari terakhir, seiring meningkatnya ekspektasi tekanan terhadap Moskow.
Kesepakatan dengan UE mencakup tarif impor AS sebesar 15% untuk sebagian besar barang Eropa dan janji pembelian energi AS oleh UE senilai $750 miliar. Hal ini dinilai akan mendorong produsen energi AS sekaligus mengurangi ketergantungan Eropa terhadap Rusia, memperbesar tekanan ekonomi terhadap Putin. Analis menilai langkah ini memperkuat posisi AS di pasar energi global.
Pasar juga mendapatkan dukungan dari prospek perpanjangan gencatan tarif AS-China, meski beberapa hambatan tetap ada seperti penguatan dolar dan menurunnya impor minyak India. Di sisi suplai, OPEC+ menegaskan kembali pentingnya kepatuhan penuh terhadap kesepakatan produksi menjelang rapat lanjutan yang akan membahas penambahan pasokan hingga 2,2 juta barel per hari sampai akhir September.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen pasar minyak saat ini cenderung bullish kuat, didorong kombinasi geopolitik agresif AS, aliansi strategis baru dengan Eropa, dan potensi pengurangan pasokan global yang terkontrol oleh OPEC+.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
CB Consumer Confidence: Peningkatan yang diperkirakan (⬆️) dalam kepercayaan konsumen berpotensi mendukung USD.
JOLTS Job Openings: Perkiraan penurunan lowongan pekerjaan (⬇️) mengindikasikan Potensi USD melemah.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
