Dolar Bangkit, Dunia Terguncang: Trump Guncang Pasar dengan Serangan Tarif Baru!

  • Dolar AS berpotensi menguat kembali karena dukungan dari data tenaga kerja dan sinyal pembalikan tren teknikal menurut Bank of America.

  • Trump memicu guncangan pasar global dengan tarif besar-besaran terhadap Meksiko, Uni Eropa, dan ancaman 200% tarif farmasi, menambah ketegangan perdagangan internasional.

Dolar AS menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah dari tren pelemahan setelah data tenaga kerja AS yang tetap tangguh. Bank of America melaporkan bahwa faktor makro tenaga kerja menahan depresiasi dolar, memunculkan sinyal pembalikan tren terhadap euro dan dolar Kanada, serta mata uang negara berkembang seperti peso Kolombia dan zloty Polandia. Ini menjadi titik balik penting setelah tren “Trend Factor” mendominasi pasar forex pasca redanya guncangan geopolitik Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali mengejutkan pasar dengan pengumuman tarif besar-besaran: 30% untuk Meksiko dan Uni Eropa, serta ancaman tarif 200% untuk impor farmasi. Tarif ini dianggap sebagai alat tekanan politik, meski berpotensi menambah beban biaya $600 miliar. Namun, analis seperti Bernstein menganggap dampaknya sementara dan cenderung tidak segera terealisasi, dengan perusahaan-perusahaan farmasi besar sudah mengantisipasi dengan stok hingga 2027.

Di sisi lain, kekhawatiran akan proteksionisme ekstrem dan ancaman disrupsi rantai pasok global tetap membayangi. Pasar bereaksi tajam terhadap pengumuman ini, namun analis menyarankan untuk membeli saat harga melemah, dengan saham seperti Eli Lilly dan Gilead jadi pilihan utama. Di tengah tekanan geopolitik dan potensi pelonggaran moneter, dolar AS justru mendapat pijakan kembali, menciptakan kombinasi yang rumit bagi emas dan aset global lainnya.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen dominan adalah bullish untuk USD, kombinasi data tenaga kerja yang kuat, sinyal pembalikan teknikal, dan tekanan geopolitik meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

Emas Mengilap di Tengah Gempuran Tarif Trump.

  • Tarif Trump terhadap Kanada, Brasil, dan tembaga memperkuat permintaan emas sebagai safe haven.

  • Ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed di tengah ketidakpastian perdagangan turut mendukung kenaikan harga emas.

Harga emas naik hampir 1% pada Jumat, mencapai $3.354 per troy ounce, terdorong oleh meningkatnya ketegangan global akibat kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump. Setelah menetapkan tarif 35% pada produk Kanada dan mengancam tarif menyeluruh 15–20% untuk sebagian besar mitra dagang, Trump juga mengumumkan tarif 50% untuk tembaga dan produk dari Brasil. Kenaikan harga emas terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) menguat hampir 0,87%, menandakan permintaan emas tetap tinggi sebagai aset lindung nilai.

Di sisi kebijakan moneter, pasar berspekulasi bahwa ketidakpastian perdagangan dapat mendorong Federal Reserve memangkas suku bunga. Data dari Chicago Board of Trade menunjukkan ekspektasi penurunan suku bunga sebesar 49 basis poin pada 2025. Meskipun Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan fokus bank sentral adalah pada inflasi dan lapangan kerja, bukan untuk membantu pembiayaan utang pemerintah, pelaku pasar tetap menantikan data CPI dan pidato pejabat Fed minggu depan sebagai acuan arah kebijakan.

Sentimen pasar semakin terpicu oleh pernyataan Trump bahwa ia akan mengenakan tarif tambahan 10% kepada negara-negara yang dianggap mendukung kebijakan anti-Amerika, khususnya anggota BRICS. Ketegangan ini memperbesar permintaan terhadap emas sebagai aset aman, apalagi di tengah minimnya data ekonomi besar pekan ini.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen untuk XAUUSD adalah positif (bullish), emas didukung oleh eskalasi risiko geopolitik dan prospek pelonggaran moneter.

Minyak Meledak! Harga Naik 2% di Tengah Ketatnya Pasokan dan Ancaman Sanksi Baru.

  • IEA menyebut pasar minyak lebih ketat dari yang diperkirakan karena lonjakan permintaan dan berkurangnya rig pengeboran di AS.

  • Ketegangan geopolitik baru dari tarif AS dan potensi sanksi terhadap Rusia memperkuat harga minyak jangka pendek.

Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% pada Jumat (11 Juli 2025) setelah laporan dari International Energy Agency (IEA) menyebut pasar minyak global ternyata lebih ketat dari yang terlihat, didorong oleh lonjakan permintaan musim panas. Brent ditutup naik $1,72 menjadi $70,36 per barel dan WTI naik $1,88 ke $68,45 per barel. Untuk minggu ini, Brent mencatat kenaikan 3%, sedangkan WTI menguat 2,2%.

Kenaikan harga ini juga didorong oleh pengurangan jumlah rig pengeboran AS selama 11 minggu berturut-turut dan sinyal bahwa Rusia akan mengkompensasi produksi berlebih dalam periode Agustus–September. Sementara itu, Arab Saudi diperkirakan akan mengirim 51 juta barel minyak ke Tiongkok bulan depan—pengiriman terbesar dalam dua tahun terakhir. Namun, kekhawatiran ke depan tetap ada, karena OPEC memangkas proyeksi permintaan minyak global jangka panjang.

Meski IEA menaikkan proyeksi pasokan, kekhawatiran jangka pendek tentang pasokan tetap mendominasi. Ancaman tambahan tarif dari Presiden AS Donald Trump dan kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia turut menopang sentimen pasar. Di sisi lain, Eropa akan mengusulkan batas harga minyak Rusia sebagai bagian dari paket sanksi baru, yang dapat memperketat pasokan global jika eskalasi berlanjut.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen hari ini untuk minyak: Bullish. Harga minyak berpeluang ditutup positif karena kombinasi pasokan yang ketat, penguatan permintaan, dan kekhawatiran geopolitik global.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada laporan data ekonomi hari ini yang mempengaruhi perubahan sentimen terhadap pergerakan harga komoditi, forex dan indeks saham AS.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: